SEBUAH PENGALAMAN BERHARGA
Regional Medical Olympiad (RMO) 2019
Halo. Yang belum tau aku, aku Mercu dan ini rekanku (bisa dibilang rekan hidup ashiap..) namanya Itta. Disini aku sedikit memberikan pengalaman RMO 2019 di Universitas Brawijaya. Mulai dari persiapan sampai kami mendapatkan berkah dari tuhan.
Dari sewaktu mendapatkan blok biomedik dan blok muskuloskeletal, aku mulai menyukai bidang muskuloskeletal. Selain itu, 2 kakak kelas dari Universitas Udayana (Asalku) mendapatkan juara 1 di ajang bergengsi di Indonesian Medical Olympiad. Hal tersebut yang memacu aku untuk belajar lebih sehingga setidaknya mendapatkan apa yang saya impikan.
Mulai dari persiapan, perseiapan yang kami lakukan saya rasa cukup terstruktur karena kami membagi beberapa topik untuk dipelajari lebih dalam. Tapi, kami juga mengetahui materi masing-masing, sehingga kalau ada yang lupa setidaknya ada sedikit ingatan yang menempel. Jadwal bimbingan di Orthopedi juga sudah dijadwalkan oleh pembimbing kami. Selain itu kami juga mengambil bimbingan sedikit di PA, PK, dan Mikrobiologi untuk memperluas pengetahuan selain di Orthopedi.
Persiapan kami mulai serius di bulan Mei, kami habiskan waktu selama 2 bulan untuk melakukan bimbingan di berbagai topik. Hampir 3 kali setiap minggu. Persiapan kami ini bukan tanpa pengorbanan, tapi sudah terlalu banyak yang dikorbankan. Seperti contohnya aku, aku sudah mengorbankan waktuku untuk nonton film (kebiasaanku hehe), main game, dan bahkan akibat bimbingan itu beberapa kali aku bolos kuliah (hasilnya remedial di blok nutrisi hehe). Selain itu kami juga bertemu dengan kakak-kakak yang menjadi delegasi 2 tahun lalu dan 1 tahun lalu, sedikit membagi pengalaman di RMO dan IMO.
Tibalah hari H, kami terbang ke Malang dengan ilmu seadanya..
Hari pertama merupakan pembukaan RMO 2019 di Universitas Brawijaya, aku banyak melihat universitas lainnya yang terlihat pintar bagiku. Sampai aku minder menunjukkan diriku ke orang-orang, tapi aku tetap bercengkrama dengan mereka seperti berkenalan dan sebagianya. Aku sama sekali tidak menunjukkan seberapa banyak ilmuku kepada mereka (karena saya melihat beberapa dari mereka berdiskusi terkait bidang mereka), karena aku tau ilmuku belum seberapa. Selain itu aku juga bertemu teman sekamarku yang ramah sesama, meski mereka adalah kakak tingkat dari universitas berbeda.
Hari Kedua merupakan penyisihan, disini kami melakukan tes MCQ 120 soal dan OSPE. MCQ kami lewati dengan hati yang cukup tentram karena soal-soal yang keluar cukup kami tahu, tapi kami belum tahu apakah itu cukup untuk menjadi unggul terhadap tim lainnya. Kemudian kami melalui OSPE dimana ini seperti pratikum muskuloskeletal tapi dengan waktu yang singkat yaitu 40 detik setiap stasenya. Setelah itu usai kami menyesalkan beberapa hal, seperti salah tulis dan salah bahasa (dimana ada regulasi terkait bahasa yang digunakan). Namun, kami juga melihat yang lainnya juga merasakan hal yang sama. Selain itu kami juga sedikit kecewa karena beberapa topik silabus tidak terlihat di OSPE.
Hari Kedua sudah usai, malam harinya saya beristirahat dengan makan bersama dengan delegasi lainnya dari universitas kami (Universitas Udayana) bersama dengan dokter pembimbing selaku kaprodi di Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. Pagi harinya, jam 04.30 WIB saya dan teman sekamar bangun hanya untuk melihat pengumuman di instagram. Kami sekamar bersorak ria karena menjadi 7 besar disetiap cabang lombanya. Aku sangat senang, meski aku tetap berpikir ini akan mustahil karena banyak universitas ternama yang menjadi saingan kami. Akhirnya kami janjian untuk bertemu di restoran untuk belajar terkait materi yang akan diujikan.
Hari Ketiga merupakan hari terakhir kami berkompetisi yaitu MCQ 100 soal dan OSCE komprehensif untuk babak semifinal. Pertama kami melalui MCQ dengan sedikit perasaan khawatir karena soal yang muncul jauh lebih susah dari soal yang pertama. Kemudian kami melalui OSCE pada masing-masing stase. Aku mendapatkan kasus di Siku dan rekanku mendapatkan kasus di Lutut. Aku merasa sangat pesimis, kenapa ? karena sebenarnya aku tidak yakin dengan diagnosis kerja yang aku buat. Tapi untunglah aku mengatakan beberapa diagnosis pembanding (karena pada kasus tersebut tidak tersedia penunjang). Namun, rekanku nampaknya lebih yakin dari aku karena setelah stase dia mengatakan "It was hard, but i did it". Sebelum pengumuman dan selama kompetisi, setidaknya kami berdoa beribu-ribu kali untuk meminta pada-Nya agar dimudahkan.
Tiba saatnya pengumuman...
Dengan sangat senangnya, kami menjadi 3 besar dalam cabang Muskuloskeletal RMO 2019. Tentunya kami sangat senang, karena kami sudah mendapatkan juara. Tapi di babak final kami akan memperebutkan juara 1, 2 dan 3. Di babak final terdapat tahap Soca-PH dan MQG. Saat mulai soca-ph kami mendapatkan kasus dan harus mempersentasikannya dengan menggunakan media kertas. Kami mendapatkan kasus yang sangat umum yaitu Osteoporosis. Kami mempersentasikan dengan lancar, namun penguji memberikan pertanyaan yang cukup sulit untuk dijawab.
Kemudian, pada tahap MQG yaitu cerdas cermat, terdapat 10 soal wajib dan 10 soal rebutan. Dari soal wajib tersebut kami hanya bisa menjawab 7 soal saja sehingga nilai kami menjadi 700 poin. Kemudian soal rebutan, dimana kami harus berhati-hati karena ada nilai minus 50 kalau jawaban salah. dari 10 soal kami sekiranya menjawab 4 soal namun 2 jawaban kurang tepat. Sehingga akumulasi akhir nilai kami adalah 900 poin. Dimana syukurnya poin tersebut lebih tinggi dari 2 saingan kami. Namun poin tersebut perlu digabung dengan poin dari Soca-PH.
Tiba saatnya pengumuman di malam penutupan.
Dengan sangat senangnya, kami mendapatkan juara 1 dalam cabang Muskuloskeletal. Untuk pertama kalinya ikut dan pertama kali mendapatkan Medali Emas, tentunya kami sangat senang dengan hal itu. Hal yang menurut kami untuk dibayangkan saja tidak mungkin. Tapi berkat-Nya kami menjadi juara dalam ajang kompetisi bergengsi ini.
Di hari keempat, kami pergi ke Bromo dengan perasaan tenang dan bahagia. Meski di bromo sangatlah dingin mencapai 9 derajat celcius. Saat di bromo yang saya pikirkan adalah minuman hangat dan pop-mie. Benar saja, sampai sana kami membeli pop-mie dan teh hangat untuk mengatasi rasa lapar dan kedinginan disana. Selain itu, kami juga menangani Frosnip kami dengan merendam akral jari di kubangan air hangat yang kami pesan. Nyaman...
"Semua yang dilakukan baiknya dengan diiringi doa kepada-Nya. Namun, kita harus tetap berusaha dan tetap merunduk seperti halnya tanaman padi. Semua sudah diatur oleh-Nya, kita tinggal berusaha, berdoa, dan merunduk. "
Delegasi dari Universitas Udayana
"Meski tidak semua juara, tapi kami bangga mewakilkan Universitas Udayana"


Ditunggu kisah IMOnya kak 🙏
ReplyDeleteHalo yoska, maaf ya di IMO kami gugur di penyisihan. Cuma sampai ranking 13, sedangkan untuk masuk semifinal hanya diambil 10 besar. Sedih memang, manusia seiring waktu akan terus berubah entah menjadi lebih baik atau sebaliknya.
DeleteKebetulan juga soal penyisihan IMO banyak soal double sekitar 3-4 soal, soal double tersebut kebetulan kami tidak yakin dengan jawabannya, bahkan ada juga soal patologi anatomi yang gambarnya hitam putih. Nah, salahnya kami pada soal double.. kami tidak menggunakan konsep probabilitas atau peluang. Seharusnya kan soal yang ragu tersebut kami jawab dengan jawaban beda ya, tapi kami malah jawab soal tersebut dengan jawaban yang sama. Akhirnya kalau 1 soal salah, maka salahnya jadi double kan.
Saran kakak, nanti kalau kamu sebagai delegasi kamu harus banyak latihan soal dan selalu ingat 'jangan pernah anggap ilmumu cukup, kamu harus selalu merasa kurang dan selalu antusias', dengan itu kamu tidak mengulangi kesalahan yang kakak alami. Persiapan menuju IMO kakak sangat jauh kurang, karena terlalu banyak kesibukan di kampus dan pelajaran blok yang berat.
Semangat ya!
Nikmati saja prosesnya, jika prosesnya baik diimbangi dengan doa maka dengan kehendak Tuhan maka kamu pasti berhasil!